BERUANG TEDDY & KEANGKUHAN: Dibenci Oleh Tuhan

Edisi : Minggu, 23 Agustus 2015

BERUANG TEDDY

Bacaan Alkitab: 1 Samuel 24:1-8

Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul. (1 Samuel 24:6)

Presiden Amerika ke-27, Theodore Roosevelt, dikenal jujur dan sportif. Ia gemar berburu beruang. Suatu hari ia tak memperoleh buruan. Penguasa setempat tidak ingin presiden malu dan pulang dengan tangan hampa. Ia memerintahkan untuk mengikat seekor beruang di dekat pohon sehingga siap untuk ditembak. Roosevelt menolak. Insiden tersebut membuat dirinya kian dikenal dan dihargai. Untuk menghormati sikap kepala negara, seorang pencipta mainan anak-anak membuat boneka beruang dan menamainya “Teddy”–Beruang Teddy.

Aha! Peluang emas! Orang yang bikin hidupnya susah dan menghendaki kematiannya sedang lengah. Ia sedang buang hajat! Menikamnya dari belakang pada saat seperti itu bukan perkara sukar. Anak buahnya membujuk agar kesempatan emas itu jangan dilewatkan. Tetapi Daud menolak. Ia masih punya nurani yang berfungsi, masih bisa “berdebar-debar” memberinya sinyal untuk membedakan yang benar dari yang salah (ay. 6). Membunuh orang yang diurapi Tuhan, apalagi dengan cara yang tidak ksatria, bukanlah pilihannya.

Sikap ksatria dan sportivitas dewasa ini merosot drastis. Atlet menggunakan dopping. Petinju menggigit bagian tubuh lawan. Pendukung tim sepakbola mengamuk dan menjadi anarkis. Berpolitik dengan kampanye hitam. Beli pendukung. Tak mau mengakui kekalahan, dan sebagainya. Padahal sportivitas dan sikap ksatrialah yang justru dikenang dan dihargai dalam jangka waktu yang panjang. Marilah kita kembali mengasah nurani bersama firman Tuhan agar tak menjadi tumpul digerus zaman.

PERTARUNGAN SEJATI ADA DI DALAM HATI.
KEMENANGAN SEJATI ADA PADA NURANI.

sumber: https://gbimutiara.wordpress.com/2015/08/19/renungan-sore-19082015

KEANGKUHAN: Dibenci Oleh Tuhan

Bacaan Alkitab:  Obaja 1-16

“Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: ‘Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?'”  Obaja 3

Obaja, yang arti namanya adalah hamba Tuhan, adalah nabi yang diperintahkan Tuhan menyampaikan nubuatan rencana penghukuman Tuhan atas bangsa Edom.  Edom adalah tetangga selatan Yehuda yang merupakan keturunan Esau, saudara Yakub.  Jadi sesungguhnya orang-orang Edom masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Israel, tetapi mereka seringkali membantu pasukan asing untuk menyerang Israel.  Ini merupakan kelanjutan permusuhan berkepanjangan di antara Esau  (bapak orang Edom)  dan Yakub  (bapak ke-12 suku Israel).  Ketika Yehuda mengalami penderitaan, orang-orang Edom bukannya menolong dan menunjukkan sikap empati, tapi malah bersukacita di atas penderitaan saudaranya itu.  Hal ini menimbulkan murka Tuhan!

Secara geografis Edom merupakan negeri yang aman, terlindung dan sulit diserang musuh karena berada di daerah pegunungan berbatu.  Karena itu orang-orang Edom sangat membanggakan negerinya dan merasa diri kuat.  Mereka berpikir bahwa tidak akan ada bangsa lain yang sanggup mengalahkannya.  Mereka pun menjadi angkuh dan lupa bahwa Tuhan sangat membenci keangkuhan.  “Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu.”  (Yesaya 2:11).

Suatu bangsa atau manusia akan mudah sekali diperdaya oleh keangkuhan ketika merasa memiliki segala-galanya:  kekuatan, kekayaan, kedudukan, kepintaran dan sebagainya.  Darimanakah semuanya itu?  Segala sesuatu datangnya hanya dari Tuhan, dan tidak ada sesuatu pun yang ada di dunia ini atau yang kita miliki yang dapat dibanggakan atau sombongkan.  Kalau bukan karena Tuhan kita tidak mungkin dapat mempertahankan keadaan kita, dan apa yang kita punyai hari ini esok belum tentu ada, karena kekayaan dan kejayaan manusia dapat lenyap dalam sekejap.  Karena itu,  “Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.”  (Amsal 27:1).

“Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian.”  Amsal 29:23

sumber: https://gbimutiara.wordpress.com/2015/08/20/renungan-pagi-20082015/

Posted on 23/08/2015, in Warta. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: