PENDAYUNG KAPAL PERANG & MENANTI DAN TERUS MENANTI

Edisi : Minggu, 03 Mei 2015

PENDAYUNG KAPAL PERANG

Bacaan Alkitab : 1 Korintus 4:1-5

Demikianlah hendaknya orang memandang kami: Sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. (1 Korintus 4:1)

Paulus menyebut dirinya sebagai seorang hamba Kristus (ay. 1). Dalam bagian tersebut, kata hamba memakai kata huperetes, yang berarti seorang pendayung kapal perang. Ia ditempatkan di bagian bawah kapal sehingga tidak nampak dari luar. Meskipun huperetes berperan sebagai pendayung kapal, tetap saja arah perjalanan sebuah kapal ditentukan oleh sang nakhoda. Ke mana pun nakhoda memerintahkan kapal untuk pergi, huperetes harus melakukannya. Ketika kapal tersebut memenangkan sebuah pertempuran, tentunya yang mendapatkan pujian bukanlah para pendayung kapal, melainkan sang nakhoda.

Paulus sengaja memakai kata huperetes untuk menggambarkan dirinya. Ia ingin menunjukkan bahwa pelayanannya adalah ekspresi dari ketaatannya kepada kehendak Kristus, Sang Nakhoda. Ketika pelayanan Paulus berhasil, bukan Paulus yang membusungkan dada, melainkan Kristus yang terlihat dan dimuliakan. Ketika Paulus memenangkan jiwa, bukan diri Paulus yang dipuji-puji, melainkan Kristus, Nakhoda, yang diagungkan.

Bagaimana dengan kita? Seberapa sering kita justru mengambil tempat dan posisi yang seharusnya menjadi milik Kristus? Seberapa sering kita memiliki motivasi untuk menonjolkan diri untuk mendapatkan pujian orang lain ketika melayani Dia? Bukankah seharusnya kita mengambil peran, kedudukan, dan tanggungjawab seperti seorang huperetes? Biarlah kehidupan kita tersembunyi di dalam Kristus. Biarlah Kristus menyatakan kehidupan-Nya melalui hidup kita. Biarlah hidup kita memuliakan nama-Nya.

BUKAN HAMBA YANG DIPUJI DAN DIMULIAKAN, MELAINKAN TUANNYA

 sumber: https://gbimutiara.wordpress.com/2015/05/01/renungan-sore-01052015/

MENANTI DAN TERUS MENANTI

Bacaan Alkitab:  Mazmur 27:1-14

“Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup!”  Mazmur 27:13

Menanti adalah sebuah pekerjaan yang mungkin tidak membutuhkan tenaga besar, tapi bagi kebanyakan orang merupakan hal yang sulit dilakukan, suatu pekerjaan yang sangat membosankan, menjemukan dan bahkan sangat menguras emosi.  Orang akan gampang sekali marah, kesal, jengkel dan kecewa ketika harus menanti sekian lama, namun yang dinantikan ternyata tidak kunjung datang.  Dalam perjalanan hidup ini menanti selalu mewarnai keseharian kita.  Saat berobat ke dokter kita harus menanti giliran di ruang tunggu, di supermarket pun kita harus menanti giliran membayar di kasir, saat di gedung bioskop mau tidak mau kita harus rela mengantri tiket, seorang gadis menanti dengan galau akan kepastian hubungan dari pacar, saat bekerja kita juga menanti waktu tibanya jam pulang kantor, isteri-isteri dengan hati gelisah harus menanti pulangnya suami dari luar kota, orangtua menanti anak-anak pulang dari sekolah dan sebagainya.

Tak terkecuali di dalam kehidupan kekristenan ini banyak orang Kristen yang tidak tahan ketika harus melewati proses menanti yaitu menanti jawaban doa dari Tuhan, menanti Tuhan bertindak, menanti Tuhan menggenapi janji-Nya.  Ketidaksabaran dalam menanti waktu Tuhan inilah yang seringkali menjadi penghalang untuk kita melihat mujizat.  Harus kita akui bahwa menanti itu ternyata bukanlah perkara yang mudah.  Karena itu firman Tuhan mengingatkan,  “Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!”  (Mazmur 27:14).  Kata kuatkanlah dan teguhkanlah berarti kita diperintahkan bukan hanya menanti, tetapi menanti dengan sabar, setia dan tetap tidak berubah apapun keadaannya.

Ada berkat disediakan Tuhan bagi orang-orang yang mau mempraktekkan kesabaran dan kesetiannya di dalam penantian terhadap-Nya:  “… orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri.”  (Mazmur 37:9).  ‘Mewarisi negeri’  berarti berkat yang diberikan Tuhan bukanlah berkat yang biasa-biasa saja, tapi berkat yang berkelimpahan.  Karena itu janganlah menyerah di tengah jalan! 

“Ya, semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu;”  Mazmur 25:3a

 sumber: https://gbimutiara.wordpress.com/2015/05/01/renungan-pagi-01052015/

Posted on 03/05/2015, in Warta. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: