TIDAK ADIL ! & PERSEKUTUAN DENGAN SESAMA

Edisi : Minggu, 08 Maret 2015

TIDAK ADIL !

Bacaan Alkitab: Matius 27:11-26

Ia memang mengetahui bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki. (Matius 27:18)

 Kapan kita berteriak, “Ini tidak adil!”? Ketika kita dirugikan, bukan? Sebaliknya, kapan kita diam saja? Saat kita diuntungkan, bukan? Jadi, tampaknya ada ketidakadilan yang berguna ya? Saat dirugikan kita juga cenderung menyalahkan orang lain, situasi, lingkungan, bahkan Allah sebagai sumber ketidakadilan itu. Kenapa kita tidak mawas diri: bisa jadi kita sendiri biang keladinya?

Selain itu, kecenderungan kita membandingkan diri dengan mereka “yang di atas” (yang lebih kaya atau yang lebih pandai, misalnya) bisa mencuatkan perasaan bahwa hidup ini tidak adil. Padahal, kalau kita membandingkan diri dengan mereka “yang di bawah”, bisa jadi kitalah yang bakal mereka anggap tidak adil! Ya, kita cenderung bersungut-sungut sampai lalai mensyukuri berkat yang sudah kita miliki.

Lalu, bagaimana dengan tuduhan bahwa Allah tidak adil? Jelas salah alamat. Dia selalu adil (Ul. 32:4, Dan. 9:14). Sebenarnya, justru Dialah yang sering kita perlakukan secara tidak adil. Ingat Yudas Iskariot yang mengkhianati dan menjual Yesus (Mat. 26:14-16)? Juga fitnah Mahkamah Agama karena mereka dengki pada-Nya (ay. 18; juga Mat. 26:59)? Barangkali hanya dalam hal menghukum Putra Tunggal-Nya saja Allah bisa dikatakan “tidak adil”. Kenapa? Karena kitalah yang seharusnya tergantung di kayu salib! Dengan berbuat “tidak adil” pada Anak-Nya, ia telah menunjukkan keadilan-Nya: bahwa hukuman atas dosa telah dijatuhkan. Jadi, dalam “ketidakadilan-Nya” Allah tetap adil, bukan?

 KEADILAN ALLAH DINYATAKAN DALAM “KETIDAKADILAN-NYA”
TERHADAP PUTRA TUNGGAL-NYA DEMI KESELAMATAN KITA

sumber: https://gbimutiara.wordpress.com/2015/03/07/renungan-sore-07032015/

PERSEKUTUAN DENGAN SESAMA

Bacaan Alkitab Pagi:  1 Yohanes 1:5-7

“Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.”  1 Yohanes 1:7

Selain kita dipanggil untuk memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan, kita juga harus hidup dalam persekutuan dengan sesama.  Dengan sifatnya sebagai makhluk sosial, secara natural manusia akan membentuk suatu komunitas karena setiap orang memiliki kebutuhan untuk saling berinteraksi, saling berbagi rasa, saling mencurahkan kasih sayang dan sebagainya, di mana aspek ini tidak bisa dipenuhi bila kita hidup seorang diri, melainkan melalui hubungan dan persekutuan dengan orang lain.  Jadi beberapa alasan utama manusia membentuk komunitas adalah untuk keamanan, identitas dan juga kebutuhan emosional.

Adapun tanda bahwa kita memiliki persekutuan dengan sesama adalah ketika kita hidup di dalam kasih, atau mempraktekkan kasih sebagaimana yang Tuhan Yesus perintahkan,  “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.”  (Yohanes 13:34-35).  Rasul Paulus juga menasihatkan,  “Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.”  (Efesus 5:1-2).  Kehidupan kekristenan meniru ajaran dan perbuatan Allah.  Jika kita mengaku anak-anak Allah maka kita harus meniru dan memiliki sifat menyerupai Allah Bapa kita agar selaras dengan keberadaan kita sebagai anak-anak-Nya.  Tertulis:  “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.”  (1 Yohanes 4:8).

Jadi, mengasihi harus menjadi gaya hidup kita sehari-hari.  Mengasihi berarti membuang semua sifat lama kita yang cenderung mementingkan diri sendiri dan mengabaikan orang lain, dan berubah menjadi pribadi yang memiliki kepedulian.

Hakekat kasih bukanlah menerima, tetapi memberi, yaitu kasih yang diwujudkan dalam sebuah tindakan nyata!

 sumber: https://gbimutiara.wordpress.com/2015/03/07/renungan-pagi-07032015/

Posted on 08/03/2015, in Warta. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: